Aplikasi terapan antropologi dan pendampingan masyarakat


“Antropologi adalah usaha serius untuk memahami orang, usaha yang mencoba memahami bagaimana orang menafsir dan bertindak. Para antropolog mendengar pada apa yang orang katakan, melihat apa yang orang lakukan dan kemudian mencoba untuk memahami kata dan perbuatan orang dengan menempatkannya dalam konteks yang berguna dan nyata bagi orang-orang.” (MacClancy, J. Exotic no more)


Latar konteks

Melihat kembali konsep pembangunan masyarakat maka yang terjejal di hadapan kita adalah deretan referensi yang merujuk pada sejarah, ekonomi, modal, struktur pasar dan berbagai persoalan sumber daya alam dan manusia. Begitu banyak program pembangunan masyarakat yang dilakukan dengan sekian banyak sponsor dengan berbagai model pendekatan. Namun, sangat jarang komponen budaya lokal menjadi bagian yang diperhitungkan dalam hasil-hasil pembangunan. Usaha untuk melihat secara mendalam bagaimana budaya lokal berperan dalam membentuk pemahaman yang integratif dengan pengembangan masyarakat masih sangat kurang. Bahkan lebih sering komponen utama yang mendominasi indikator yang paling diperhitungkan adalah bergantung pada komponen ekonomi dan disisi lain, budaya lokal adalah varibel yang berdiri sendiri.

Berbagai perspektif yang berkait dengan hal tersebut mengabaikan aspek penting dari suatu proses pembangunan. Merujuk pada budaya sebuah masyarakat seringkali menimbulkan perdebatan dan berbagai reaksi. Kenyataannya, memasukkan komponen budaya lokal menjadi pilihan yang menarik, bukan saja untuk kepentingan ekonomi tapi secara lokal akan menyentuh aspek-aspek pembangunan yang lain dalam sebuah masyarakat. Pemahaman dan interpretasi dari sejarah masyarakat seringkali merefleksi perestiwa masa lalu yang cocok atau berkaitan dengan kebutuhan, kepentingan, dan hubungan dengan masa kini. Kondisi ini menjadi hal yang penting bagi praktisi pengembangan masyarakat untuk mempertimbangkan pentingnya budaya lokal dalam usaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Dengan memberikan perhatian dan keunikan nilai-nilai budaya, tradisi dan berbagai hal, hasil-hasil pembangunan yang lebih efektif dan efisien dapat dicapai.

Budaya lokal memberikan rasa identitas bagi masyarakat khususnya komunitas yang memiliki kesamaan cara pandang dan nilai terhadap sebuah budaya. Hal ini menciptakan pemahaman umum, tradisi dan nilai untuk kemudian menjadi langkah awal untuk menidentifikasi rencana atau aktivitas yang berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan. Budaya memberikan kontribusi untuk membangun rasa identitas dan solidaritas lokal. Ini mempengaruhi kepercayaan masyarakat atau komunitas untuk datang bersama-sama untuk menjawab masalah dan kebutuhannya. Komitmen lokal di antara penduduk, terlepas dari kondisi ekonomi atau politik, dapat berfungsi sebagai alat yang berharga dalam membentuk aktivitas yang efektif dalam sebuah proses pembangunan. Komitmen tersebut, berdasarkan budaya dan identitas bersama, dapat dilihat sebagai alat potensial yang penting dalam mempertahankan pengembangan, dan upaya perbaikan sosial yang melibatkan banyak pihak.

Berkait dengan hal tersebut, salah satu pengetahuan yang memberikan kontribusi dan banyak berfokus pada kebudayaan adalah disiplin ilmu antropologi, lebih spesifik antropologi sosial atau antropologi budaya. Antropologi sebagai bagian dari ilmu-ilmu sosial saat ini telah berkembang sesuai dengan semakin banyaknya implikasi dari aplikasi terapan dari pengetahuan antropologi itu sendiri. Salah satu defenisi dari antropologi terapan adalah bidang ilmu antropologi berpusat pada pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), sudut pandang (perspectives) ilmu antropologi yang digunakan untuk mencari solusi bagi masalah-masalah praktis kemanusiaan dan memfasilitasi pembangunan. Dengan mempekerjakan defenisi tersebut maka tidak dapat disangkal bahwa peran ilmu antropologi menjadi bagian penting dari berbagai disiplin ilmu sosial yang berkait dengan pembangunan masyarakat dan studi-studi terapan yang berfokus pada budaya lokal. Selanjutnya, beberapa hal yang berkaitan dengan proses implementasi pengembangan masyarakat yang berbasis budaya lokal membicarakan beberapa fokus antara lain adalah; self determination dan revitalisasi budaya; peran pengetahuan antropologi dalam proses pembangunan masyarakat; praktek aplikasi metode antropologi visual dalam komunitas serta implikasi dari intervensi positif dalam sebuah penelitian partisipatoris.

Tulisan ini membahas beberapa hal yang berhubungan dengan terapan antropologi dan pembangunan masyarakat dengan membawa beberapa metode penelitian yang menggunakan aplikasi antropologi visual dalam proses pendampingan masyarakat. Untuk itu tulisan ini terdiri dari beberapa fokus bahasan. Yang pertama adalah latar konteks yang menempatkan budaya lokal menjadi bagian yang terintegrasi dengan pencapaian pembangunan masyarakat. Kedua, tinjauan pembangunan berbasis budaya lokal sebagai suatu studi empiris, ketiga adalah pengalaman implementasi proses revitalisasi budaya dalam pembangunan komunitas dan yang terakhir adalah narasi tentang manfaat dan tantangan dari proses pembangunan yang berbasis budaya lokal.



Revitalisasi budaya, pendekatan partisipatoris dan self determination

Membicarakan defenisi budaya dan kebudayaan dapat diandaikan sebagai seseorang melihat sesuatu yang sama dari sudut pandang yang berbeda. Oleh sebab itu salah satu sudut pandang yang dipakai dalam tulisan ini yang menyangkut dengan defenisi budaya adalah sebuah sistem yang terintegrasi yang terdiri dari ide, prilaku, dan produk yang dimiliki dan dibagi didalam anggota dari sebuah kelompok masyarakat. Elemen-elemen ini hadir sebagai rangkaian kombinasi, kompleksitas dan pola-pola yang berhubungan dengan prilaku, ide dan produk yang berhubungan satu sama lain. Banyak pemikiran serta program pembangunan yang menggunakan jargon budaya lokal seringkali memisahkan tiga komponen tersebut. Indikator keberhasilan dan capaian juga tidak mengintegrasi hal tersebut. Akibatnya, mulai dari proses perencanaan program sampai dengan proses pelaksanaan program hanya dapat menyentuh salah satu komponen tersebut sehingga hasil yang dicapai juga sangat parsial. Salah satu contohnya adalah dengan mengartikan budaya itu sebagai produk kesenian atau pariwisata, akibatnya unsur lain dari kompleksitas budaya seperti pengetahuan dan prilaku yang bersumber dari nilai suatu budaya terabaikan. Lebih jauh, karena kurangnya pengetahuan tentang intergrasi ketiga komponen budaya itu maka seringkali keberlanjutan dari program pembangunan tersebut menjadi terkendala.

Dengan konsep budaya yang memiliki banyak definisi dan interpretasi, dalam istilah sosial, sering digunakan secara luas untuk mewakili seluruh cara hidup. Termasuk dalam cara seperti hidup adalah aturan, nilai, dan perilaku yang diharapkan. Pada tingkat yang paling dasar, budaya dapat dilihat sebagai produk bersama masyarakat. Produk ini memiliki makna umum yang terakumulasi dari waktu ke waktu dan juga mencerminkan lampiran dibagi di antara anggota masyarakat. Dengan demikian, budaya dapat dilihat sebagai terdiri dari ide-ide, aturan, dan dimensi-dimensi material. Ide mencakup hal-hal seperti nilai-nilai, pengetahuan, dan pengalaman yang dimiliki oleh suatu budaya. Nilai adalah berbagi gagasan dan keyakinan tentang apa yang secara moral benar atau salah, atau apa yang diinginkan secara kultural. Nilai-nilai tersebut adalah konsep abstrak dan sering berdasarkan agama atau budaya dalam bahwa mereka mencerminkan cita-cita dan visi dari apa yang masyarakat harus. Nilai-nilai tersebut sering membentuk perilaku yang diharapkan dan aturan. Aturan ini menerima cara-cara dalam melakukan sesuatu dan merupakan pedoman untuk bagaimana orang harus melakukan diri mereka sendiri dan bagaimana mereka harus bertindak terhadap orang lain.

Nilai dan aturan yang sering diambil untuk diberikan dan diasumsikan untuk mencerminkan pemahaman bersama. Selanjutnya, bagaimanapun, memiliki asal-usul langsung dan dikembangkan dalam menanggapi konflik atau kebutuhan. Pada inti dari nilai-nilai tersebut dan norma adalah proses interaksi yang menyebabkan kemunculan mereka dan penerimaan. Proses ini membentuk tindakan individu dan sistem sosial dalam masyarakat mereka. Budaya menyediakan kepemilikan dan arena di mana penduduk dapat membuat perbedaan. Pada saat yang sama, budaya memberikan kontribusi untuk praktek eksklusif dan telah dipandang sebagai hambatan pada upaya pembangunan. Apapun, jelas bahwa budaya memainkan peran penting dalam aksi masyarakat setempat.

Untuk dapat memahami sebuah masyarakat dengan validitas ekspektasi manfaat yang jelas bagi masyarakat maka sebuah revitalisasi budaya akan sangat berguna. Revitalisasi budaya adalah sebuah integrasi metode dan tahapan yang terdiri dari proses yang dapat disesuaikan dengan kondisi saat memulai merencanakan, melaksanakan dan melakukan evaluasi sebuah program pembangunan masyarakat. Revitalisasi budaya juga dapat terintegrasi dengan model-model yang selama ini digunakan oleh berbagai penggiat pemberdayaan masyarakat. Salah satu fondasi utama dari revitalisasi budaya adalah terpenuhinya unsur-unsur partisipatoris yang terefleksi dari semua aktivitas revitalisasi budaya tersebut. Yang menjadi dasar dari syarat partisipatoris adalah melihat sebuah komunitas atau masyarakat sebagai komponen yang memiliki potensi akan pengetahuan, prilaku dan dapat menghasilkan produk yang bermanfaat bagi mereka.

Integrasi revitalisasi budaya sebagai sebuah tahapan secara spesifik terbagi dari empat bagian antara lain adalah adalah re-inventory, tahapan upaya meinventarisasi dan mendokumentasi tiga aspek budaya menjadi rujukan yang disepakati oleh komunitas. Kedua adalah reorganizing, adalah tahapan mengorganisasi kembali hasil dari reinventory, dimana keterbacaan hasil terhadap komunitas adalah mutlak harus terpenuhi. Ketiga adalah re-interpretation, adalah tahapan dimana proses menginterpretasi pengetahuan, nilai dan produk budaya mempunyai hubungan fungsi dengan kondisi kekinian. Proses ini kadangkala membutuhkan waktu yang lama yang berujung pada kesepakan komunitas terhadap hasil interpretasi itu baik berbentuk konsensus atau ekpresi laku dan prilaku komunitas, secara sadar da tidak sadar. Dan yang terakhir adalah re-actualizing. Proses dimana kesepakatan akan hasil interpretasi tersebut diimplementasi sesuai dengan determinasi komunitas itu sendiri.

Revitalisasi budaya hanya mungkin dilakukan jika kita mengenal apa yang sudah komunitas punyai karena revitalisasi adalah proses menyeleksi dengan menggunakan masalah kekinian sebagai penakar. Masalah revitalisasi budaya menjadi penting dan mendesak karena budaya tradisional adalah hasil jawaban generasi pendahulu terhadap zamannya, sedangkan kita mempunyai persoalan kekinian berbeda dari zaman generasi para pendahulu. Revitalisasi mungkin dilakukan jika kita telah mengenal atau telah mengetahui apa yang kita miliki dan atas dasar itu kita menjawab tantangan zaman angkatan. Berhenti pada pelestarian tidak akan memberikan kita kemampuan menjawab tantangan zaman. Berdasar dari hal itu maka pada tulisan ini saya ingin membagi pengalaman melakukan penelitian yang berujung pada pendampingan komunitas bajo dengan menggunakan pendekatan revitalisasi budaya.

Revitalisasi budaya komunitas Bajo;

Terapan Antropologi dalam pengembangan masyarakat

Secara administratif, Desa Hakatutobu berada dalam wilayah Kecamatan Pomalaa, dengan 250 KK dari 3 dusun yang ada. Mayoritas pekerjaan komunitas ini adalah nelayan tradisional (menggunakan perahu dengan ukuran mesin kecil, 2 sampai 3,5 pk), dengan tenaga kerja produktif berusia antara 20-45 tahun. Akan tetapi, banyak ditemukan dari remaja laki-laki usia sekolah (antara 12-20 tahun) ikut aktif menopang kehidupan keluarga mereka. Komunitas yang hampir sebagian besar hidup dipesisir dan bermukim di atas air ini telah menghuni Tanjung Leppe selama tiga generasi yang sebelumnya masih hidup di perahu dan hidup berpindah-pindah. Sebagian besar keluarga komunitas Bajo ini berasal dari selatan sebuah kampung Bajo yang bernama Boepinang, saat ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara.

Saat ini komunitas Bajo ini dikelilingi oleh perusahaan tambang yang mengekploitasi daratan yang membawa dampak sosial dan lingkungan yang mempengaruhi kualitas hidup komunitas Bajo Hakatutobu. Beberapa studi yang dilakukan sebagai assessment antara lain menemukan, bahwa tingkat pendapatan komunitas Bajo Hakatutobu berbanding lurus dengan tingkat asupan gizi, pendidikan dan pemahaman kesehatan lingkungan, sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan pada bulan Juni, tahun 2008, oleh SEAMEO–TROPMED, Regional Center for Community Nutrition, Universitas Indonesia. Hasil preliminary research, 2009 yang dilakukan oleh tim assessment program Yayasan MediaQita, menjadi bagian awal inisiasi program revitalisasi budaya komunitas Bajo Hakatuttobu. Beberapa temuan yang menunjukkan bahwa masalah utama yang dihadapi oleh komunitas Bajo Hakatutobu adalah; nilai-nilai budaya dalam komunitas Bajo memudar; angka partisipasi dan kualitas serta pembelajaran sekolah yang rendah; praktek dan perilaku hidup sehat; kualitas gizi balita dan Ibu; sumber Income terbatas pada hasil laut; rendahnya tingkat partisipasi komunitas dalam kegiatan pembangunan desa. Hal inilah menjadi permasalahan komunitas bajo Hakatutobu yang dirangkai dalam beberapa isu kebutuhan dasar seperti kesehatan, pendidikan dan partisipasi komunitas. Dengan membungkus isu struktural tersebut dengan pendekatan budaya lokal melalui program revitalisasi budaya maka sebuah metode kombinasi dalam pendampingan masyarakat akan memudahkan untuk menuju kesadaran bersama untuk mengatasi persoalan komunitas tersebut.

Dengan kondisi yang kompleks tersebut, program revitalisasi budaya ini kemudian dilakukan dengan mengarusutamakan budaya lokal yang bukan saja sebagai pintu masuk tetapi menjadi jembatan untuk bekerja bersama komunitas menjawab permasalahan sosial yang ada ditengah komunitas Bajo ini. Untuk mencapai sasaran, program ini dibagi menjadi tiga fase selama tiga tahun. Fase pertama akan dilaksanakan di tahun pertama dengan sasaran pelestarian seni budaya, peningkatan kualitas gizi ibu dan anak, prilaku hidup sehat dan partisipasi komunitas dalam pembangunan desa. Untuk Fase kedua, selain melanjutkan ke tahap pendampingan komunitas (sasaran fase pertama), fokus utama di tahun kedua ini akan menitik-beratkan pada bidang ekonomi mikro berbasis budaya lokal (penguatan kelembagaan ekonomi mikro). Sedangkan di fase ketiga sebagai bagian dari phasing out strategi (strategi akhir) maka partisipasi masyarakat akan menjadi target utama. Sebagai bagian dari strategi pengembangan program revitalisasi budaya beberapa fokus aktivitas terdiri dari; pertama, pendekatan berbasis Partisipasi Masyarakat, adalah strategi pengembangan program pemberdayaan masyarakat, dengan masyarakat sebagai pelaku utama program, dengan mengarusutamakan budaya lokal melahirkan kesadaran bersama dan penerimaan yang sifatnya engaged. Strategi ini memungkinkan untuk pelibatan masyarakat, dimulai saat perencanaan, pelaksanaan hingga proses monitoring dan evaluasi, sehingga pola ke-swadaya-an dan kepemilikan atas program oleh masyarakat dapat terbangun sejak awal. Kedua, Pendekatan dengan berbagai perspektif (Multi Diciplinary Approach). Strategi ini dilakukan untuk berbagi peran secara partisipatif kepada lembaga-lembaga lain (keperawatan, kesehatan masyarakat, kedokteran dan sosial) atau dinas pemerintah terkait (dinas pendidikan, dinas budaya dan pariwisata, dinas perikanan dan kelautan serta dinas kesehatan) yang berkorelasi positif terhadap akselerasi pelaksanaan program, sehingga membangun kepedulian bersama, dan menjadi cikal bakal jejaring kemitraan, serta fasemenjadi tempat pembelajaran bersama dalam upaya meningkatkan, khususnya budaya, kesehatan dan pendidikan komunitas. Ketiga, berkait dengan kerangka pengembangan program dimana pelaksanaan program pada tiap-tiap tahun pengembangan program, secara garis besar di bagi menjadi 3 bagian pelaksanaan program, yaitu; pengembangan masyarakat; penguatan kelembagaan dan pendampingan.

Dari proses implementasi program revitalisasi budaya ini, salah satu menjadi tumpuan pendekatannya adalah penggunaan disiplin ilmu antropologi dengan terapan metodenya. Untuk memahami masalah dan tingkat permasalahan menurut komunitas itu berbagai metode penelitian antropologis dipekerjakan. Pada tahapan awal, metode-metode Participatory Rural Appraisal (PRA) yang dikombinasikan dengan etnografi yang sebagian besar menggunakan etnografi visual sangat membantu. Pemilihan metode etnografi visual disebabkan karena tingkat literasi komunitas Bajo untuk mengikuti proses sangat membatasi validitas data yang dihasilkan. Salah satu contohnya adalah saat proses pemetaan sosial. Kultur budaya Bajo Hakatutobu yang masih menganut pola patron-client membatasi penggunaan metode diskusi kelompok karena dominasi perpektif elit kadang mengurangi tingkat partisipasi dan objektivitas anggota komunitas, termasuk dominasi laki-laki atas perempuan, orang tua atas anak-anak. Lebih jauh, kesepakatan dalam sebuah diskusi kelompok dalam kasus penelitian komunitas Bajo ini sedikit akhirnya dilakukan dengan mengumpulkan wawancara yang mendalam yang dilakukan dengan personal dan klaster. Seluruh wawancara dan diskusi baik formal dan informal dikumpulkan dalam bentuk audio visual. Selanjutnya, koleksi dari wawancara ini akhirnya dibawa dalam sebuah diskusi kampung yang dihadiri komunitas dengan menggunakan pemutaran film sebagai media dalam diskusi terbuka. Komunitas Bajo akhirnya dapat melihat dan mendengar apa yang menjadi kebutuhan dan berujung pada disepakatinya sebuah proses mencari solusi yang lahir dan disepakati oleh komunitas. Selain itu, dibutuhkan waktu kurang lebih tiga bulan untuk menciptakan rapport kepada komunitas dengan menggunakan instrument audio visual yang kami pakai di lapangan. Proses ini menjadi bagian awal dari tahapan reinventarisasi dari program revitalisasi budaya. Ini menghasilkan bank data dari berbagai rekaman budaya—ide, prilaku dan produk—kehidupan komunitas Bajo. Bank data ini berbentuk data audio, audio visual, fotografi dan tekstual yang menjadi catatan lapangan. Seluruh hasil dari proses ini juga tersimpan di komunitas dalam bentuk perpustakaan yang dapat diakses komunitas.

Dalam tahapan reorganisasi, kami mulai dengan mendampingi anak-anak usia pra sekolah hingga anak usia sekolah. Bekerja dengan anak-anak dengan menggunakan peralatan audio visual sungguh suatu kelebihan tersendiri. Mendapatkan informasi kehidupan rumah tangga komunitas Bajo dari perspektif anak-anak adalah hal yang tak terduga. Selama kurang lebih enam bulan, bermain dan bekerja bersama mereka menghasilkan sesuatu yang di luar perkiraan kami. Salah satu contohnya bagaimana anak-anak menyumbangkan pemikiran mereka untuk membangun kampung Bajo adalah ketika desain jembatan dihasilkan dari hasil sketsa tangan mungil anak-anak Bajo yang mensyaratkan jembatan dengan pengaman disisi-sisinya. Selain itu untuk membawa suara anak-anak ini ke forum diskusi kampung maka para anak-anak kemudian membuat film pendek bagaimana mereka mempunyai pengalaman terjatuh ke air saat berjalan menuju ke sekolah. Selain itu, dari proses inventarisasi dan dokumentasi, sebuah tradisi lisan orang bajo yang dikenal dengan iko-iko menjadi segmen sendiri. Tradisi iko-iko di komunitas Bajo sudah sangat jarang ditemukan, hanya tersisa dua wanita tua yang mampu melakukan iko-iko. Dari proses ini, setelah didokumentasi, salah satu yang menarik adalah pesan tentang cara hidup yang oleh komunitas bajo dianggap masih relevan dan berguna bagi kehidupan sekarang. Beikut adalah kutipan iko-iko;

Niane bele’ munanne kite ale’papu’ alla taala

Nabbi muhamme isine boe’

Marannune yo’ne amomba iru mau aku yonienggai

mappalallaoh niane kau meaang kite isi boe’ kadare’

naniane sini angina nta’te

Naniane pemeye uthahte’ na nia’ne taguante dirite.

Kita harus bersyukur, rezeki ini telah diberikan tuhan,

nabi dan nenek moyang di laut

Meski kita tidak turun ke laut rezeki ini dari tuhan dan nabi

Ada yang dimakan,

Ada yang harus dibayarkan hutang

dan ada yang harus disimpan

sisanya dipakai untuk membantu sesama.

Dalam proses interpretasi bersama komunitas melalui diskusi kampung, maka komunitas menyepakati nilai-nilai manajemen hidup dari budaya komunitas. Dengan kondisi saat ini, komunitas dengan perubahan prilaku, budaya dan lingkungan yang mempengaruhi komunitas Bajo maka mereka sepakat dan menyepakati bahwa nilai budaya dalam iko-iko ini dapat menjadi landasan dalam mencari solusi persoalan-persoalan struktural, salah satunya kondisi ekonomi.

Untuk tahapan reaktualisasi, salah satu upaya untuk mengaktualisasikan nilai dari iko-iko tersebut adalah dengan memperkenalkan konsep organisasi keuangan mikro di kalangan ibu-ibu komunitas Bajo. Selama ini, kondisi ekonomi masyarakat Hakatutobu selalu terlilit dengan persoalan tengkulak yang mencekik mereka saat musim barat tiba dan telah berlangsung lama. Penerimaan terhadap konsep pengorganisasi ekonomi oleh ibu-ibu ini sangat dibantu dengan kesadaran akan pesan dan fungsi nilai budaya yang menjadi jembatan komunikasi baik diantara mereka atau antara pihak-pihak yang mendapat manfaat dari proses tersebut.

Dari sedikit contoh kasus diatas, saya ingin menggarisbawahi bahwa revitalisasi mensyaratkan determinasi sehingga melahirkan bukan saja struktur dan infrastruktur tetapi lebih jauh adalah superstruktur, sebuah landasan keyakinan bahwa proses pembangunan dengan segala pilihannya akan membawa manfaat bagi komunitas itu sendiri.

Thinks locally, acts globally; sebuah kesimpulan

Menyediakan sebuah hubungan lokal dan dasar budaya untuk pembangunan adalah penting. Orang cenderung untuk mengambil bagian dalam dan tetap berkomitmen untuk upaya pembangunan yang mereka memiliki hubungan langsung. Pengembangan upaya yang menganggap atau fokus pada budaya menyediakan mekanisme untuk menghubungkan kominitas lokal dalam proses pembangunan. Melalui upaya tersebut, komunitas lokal dapat mendorong pembangunan yang melindungi atau mempromosikan budaya mereka. Hal ini terutama penting dalam upaya pembangunan yang berusaha untuk memperoleh partisipasi lokal, kesukarelaan, dan aksi masyarakat. Dalam pemahaman budaya dalam proses pembangunan, penting untuk mempertimbangkan basis sosial budaya, hubungan interaksi, dan jenis-jenis tindakan pengembangan lokal yang dapat berkontribusi di dalamnya.

Dimasukkannya budaya ke masyarakat dan model pembangunan ekonomi dapat mengambil banyak bentuk. Budaya dapat berfungsi sebagai fokus sentral. Termasuk salah satunya adalah pariwisata dan upaya lain yang berfokus terutama pada promosi, pelestarian, atau peningkatan budaya lokal atau regional. Kebudayaan juga dapat menjadi faktor yang perlu ditangani untuk menentukan dampaknya terhadap program pembangunan baru atau yang sudah ada (manajemen sumber daya, perlindungan lingkungan). Dalam menghadapi program pembangunan, bahwa masyarakat bersedia untuk menerima dan cenderung merangkul atau bahkan tergantung pada faktor-faktor budaya. Oleh karena itu penting bahwa masalah-masalah dan solusi potensial didefinisikan dengan cara yang konsisten dengan budaya lokal.

Hubungan antara budaya dan pengembangan masyarakat sangat luas. Namun, hubungan penting adalah jarang diberikan peran yang signifikan dalam desain upaya pembangunan. Menggunakan pendekatan interaksional untuk pengembangan masyarakat memberikan kesempatan untuk menggabungkan wawasan ke dalam peran dan tempat budaya. Selanjutnya, itu berarti perkembangan konseptualisasi sehingga untuk menyoroti pentingnya membangun dan meningkatkan hubungan sosial. Menyelaraskan pembangunan tersebut dengan promosi budaya dan pelestarian dapat berfungsi sebagai alat untuk keberhasilan pengembangan. Selain itu, berfokus pada rasa solidaritas atau budaya akan memberikan wawasan tentang kurangnya kemajuan atau adanya hambatan menghambat upaya pembangunan yang ada.

Keputusan masa depan perlu dibuat tentang jenis kegiatan pembangunan yang dicapai. Dalam hal ini, perspektif teritorial yang berfokus pada budaya lokal dan atribut mereka muncul untuk memberikan pendekatan yang lebih komprehensif daripada yang fokus pada sektor ekonomi khusus. Budaya lokal adalah komponen fundamental dari kehidupan masyarakat yang membentuk karakter yang unik, kebutuhan, dan kemungkinan daerah komunitas dan individu. Memang, membedakan masyarakat membuat satu-ukuran-cocok-semua kebijakan dan program sebagian besar tidak relevan.

Kebudayaan dan lampiran untuk itu dapat digunakan sebagai faktor pendorong dalam menentang "anti-pembangunan lokal" kegiatan seperti pengembangan extralokal dan eksploitasi. Menggunakan budaya untuk memotivasi anggota masyarakat dapat berfungsi sebagai alat bagi para pembuat kebijakan dan orang lain yang tertarik dalam mendorong pembangunan di tingkat lokal.

Upaya dapat dilihat sebagai penyajian kedua sarana dan tujuan pembangunan. Untuk sebagian besar, itu adalah dengan menekankan kekayaan dan keragaman warisan budaya mereka bahwa daerah-daerah lokal akan dapat mengembangkan kegiatan-kegiatan yang meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi. Masyarakat dan penggiat pembangunan masyarakat akan perlu memahami dan belajar untuk memanfaatkan kekuatan solidaritas masyarakat dan budaya. Salah satu yang dapat memahami dan memfasilitasi hal tersebut adalah para antropolog yang berkonsentrasi pada penelitian dimana kajian-kajian yang sifatnya aplikatif yang berdasar pada kerja-kerja yang mendalam. Selama ini penelitian sosial ekonomi sebagian besar hanya menyentuh permukaan dan menggunakan metode hit and run sehingga tidak menyediakan kesempatan bagi peneliti untuk mengapresiasi dan merefleksi masyarakat dan budaya yang mereka kunjungi.

Dalam upaya membangun semangat dalam membangun komunitas, revitalisasi budaya dalam makalah ini bukanlah satu-satunya cara, bukan pula konsep global, dimana universal global bukan berarti segala sesuatu dibuat sama dimana-mana. Revitalisasi budaya harus ditempatkan tetap pada bingkai kelokalannya. Seperti falsafah orang bajo dalam mengarungi lautan, menjalani kehidupan laksana mengarungi samudra, tiupan angin dengan gelombang menggulung harus dihadapi dengan ber”palelengko’” menari diantara gelombang. Menjadi cerdas menemukan cara untuk mencapai tujuan, berpikir lokal bertindak global.



49 views1 comment