GLOBALITAS DAN REVOLUSI MINI EKONOMI


GLOBALITAS DAN REVOLUSI MINI EKONOMI

Sebuah Catatan Perjalanan “Bang Dayat” Beberapa Tahun Silam


Rasa letih kami pun belum pulih, tiba-tiba terdengar, “saya tidak pernah bermimpi akan berada disini, tapi ini nyata”. Demikian teman Vietnam kami membuka pembicaraan sambil menunjuk ke arah Times Square. Aneka slide layar lebar periklanan dan hiruk pikuk keramaian tampak di depan kami. Jujur, inilah kali pertama kami menginjakkan kaki di kawasan Manhattan setelah payah menempuh perjalanan Bus dari Washington DC ke New York. The Big Apple, sebutan lain New York, memang adalah sebuah kota yang menakjubkan. Demikian kesan yang masih tersisa dari anggota rombongan Hawaii kami saat berkunjung ke Mainland of Amerika beberapa tahun lalu.


“Apa sih istimewanya New York ini”, seruku dalam hati. Memang tampak meriahnya kota dihiasi gedung-gedung pencakar langit yang menjulang ke angkasa. Tetapi bagiku itu adalah pemandangan biasa saja seperti lazimnya pada banyak kota besar dunia yang pernah saya lewati. Namun perlahan, akhirnya saya mulai menangkap denyut nadi dan sisi perbedaan dari kota itu.


Untuk membuktikan keistimewaannya, kami menyusuri jalan-jalan utama di kawasan Manhattan dan mengunjungi beberapa tempat menarik dan penting. Times Square, Central Park, Wall Street, Gedung PBB, reruntuhan WTC, Brooklyn Heights Promenade, Liberty Island dan pusat perbelanjaan lainnya ada dalam list kunjungan kami. Dan berpapasan dengan ragam jenis manusia, Afro-Amerika, Hispanik, Maroko, India, Pakistan, Arab, Tionghoa, Jepang, Korea, dan lainnya adalah hal yang menyenangkan.


Diam-diam saya pun mulai mengakui New York sebagai salah satu The Capital City of The World sebagaimana banyak orang mengatakannya selama ini.


Sebagai kota dunia, New York adalah salah satu model episentrum gaya hidup. Karenanya, jutaan orang dari berbagai bangsa tersedot untuk datang ke sana. Entah untuk belanja, berwisata, atau kepentingan bisnis lainnya. New York ibarat etalase ragam komoditi dunia yang siap dipasarkan dan didistribusi ke seluruh pelosok dunia. Dan sebagai episentrum globalisasi kapitalisme dan pasar bebas dunia, New York menjadi rujukan kota-kota besar lainnya di seluruh dunia.


GLOBALITAS

Globalisasi pasar bebas itu nyata. Di Liberty Island sekalipun berbagai macam souvenir, gantungan kunci, pulpen dan sebagainya bahkan miniatur Liberty Statue umumnya bercap buatan China saat itu. Yang bikin surprise, saat kami hendak belanja oleh-oleh di pusat perbelanjaan kota New York, saya menemukan kemeja bercap made in Indonesia dan bangga membelinya.


Meskipun harus menanggung bullian ringan dari teman Indonesia saat berujar “sok nasionalis” kepada diriku yang jauh-jauh datang ke Amerika tetapi membeli oleh-oleh buatan Indonesia. Dengan respon santai saya mengatakan bahwa justru saya bangga mendapat kesempatan langka itu untuk bisa membeli kemeja berkualitas dunia bercap buatan Indonesia di kota seperti New York. Terus terang, sebelum-sebelumnya saya tidak pernah mendapatkan kemeja berkualitas dunia seperti itu di Jakarta, Bandung apalagi di Makassar. Toh kalau mungkin ada, ukuran, desain, dan kualitasnya agak beda.


Jujur saja, saya membeli kemeja itu bukan karena kualitas produk dan rasa nasionalisme semata, tetapi saya berkontribusi dengan membayar “jejak jejak positif” dari globalisasi pasar bebas itu sebagai bonus tambahan.


Di pusat perbelanjaan bahkan di jalan-jalan Kota New York, hampir semua merek berkualitas dunia ada di sana. Mulai dari kendaraan mewah, handphone, jam tangan, pakaian, sepatu, perabot rumah tangga, bahkan kuliner. Semua itu adalah bukti nyata dari globalisasi dan pasar bebas itu. Percampuran ras, budaya, arsitek rancang bangun, hibriditas mode gaya hidup modern dan tradisional adalah hal biasa sebagai konsekuensi dari globalitas itu.


Segala macam produk dan komoditi diperjual belikan secara bebas dalam pasar global tanpa mesti ada pembatasan. Sebab globalisasi dan pasar bebas mesti berjalan bergandengan seperti sepasang kekasih yang pada awalnya bergerak dari pusat pertumbuhan dunia lalu membawa gelombang-gelombang kecil sampai ke pinggiran desa. Memang distribusi komoditas biasanya akan lebih mudah dikenal sampai ke seluruh penjuru dunia dan pelosok desa jika produk itu dilempar terlebih dahulu masuk ke pusat kota-kota dunia seperti New York, Paris, Jakarta, Tokyo, Sanghai, Singapura, dan sebagainya.


Tetapi yang jadi soal, apakah globalisasi dan pasar bebas itu menguntungkan kita? Ada yang boleh optimis, tetapi banyak pula yang jadi korban. Tidak peduli itu orang biasa, pebisnis, atau negara sekalipun, semua turut merasakan konsekuensinya.


EKONOMI KESEJAHTERAAN


Indonesia dikenal sebagai bangsa yang kaya. Kaya akan sumber daya alam. Negara kita memiliki daratan dan lautan luas yang mengandung banyak minyak, energi, mineral dan tambang. Kekayaan laut dan ikan yang melimpah. Potensi pertanian dan peternakan kita luar biasa besar. Tetapi mengapa kita belum sejahtera?


Ekspor kita meningkat setiap tahun. Namun impor produk luar negeri juga tak terbendung. Kita menghasilkan bahan mentah dalam jumlah besar dan mengirimnya ke luar negeri. Lalu kita pun mengimpor produk jadi untuk kita konsumsi. Kita menjual bahan mentah dan bangga memakai produk bermerek luar negeri padahal bahan dasarnya dari kita.


Apakah karena pemaknaan pada comparative advantage kita memang seperti itu ataukah itu hanya pertanda bahwa kita belum percaya diri dalam mengolah dan mengemas produk yang lebih bernilai?


Kita puas akan produk alam tersebut meskipun ia belum tersentuh kreatifitas tangan kita secara maksimal. Padahal kalau kita mau mengolah bahan baku alami itu menjadi produk siap pakai maka nilainya akan berkali lipat. Dengan produk siap pakai, kualitas, dan kemasan yang baik maka kita bisa menjangkau pasar global yang lebih luas.


Sumber daya manusia kita tersedia dan tangguh. Apalagi kalau mereka dilatih untuk bisa berproduksi dengan baik, mengolah bahan baku menjadi produk yang berkualitas tinggi. Tentu saja home industri akan tumbuh secara masif. UMKM akan berdaya dan mengambil peran strategis dalam memperkuat basis ketahanan ekonomi bangsa. Kita jangan mudah puas dengan hanya menjual bahan mentah lagi, tetapi harus bisa mengekspor produk berkualitas siap pakai.


Untuk mendukung itu, investasi perbankan nasional dan sumber-sumber keuangan dalam negeri mesti memprioritaskan pembiayaan pada sektor produksi bahan pokok, pembangunan pabrik, home industri dan UKM. Perbankan tidak boleh lagi tebang pilih dan hanya berminat pada pembiayaan bisnis atau proyek berskala besar. Pemerintah dan kekuatan civil society harus berperan aktif dan turut mengontrol jalannya pembangunan ekonomi.


Investasi luar negeri boleh-boleh saja tetapi harus patuh pada aturan main yang jelas. Pembiayaan tidak lagi fokus pada sektor tertentu saja tetapi harus merata agar bisa menggerakkan ekonomi kerakyatan secara massif. Pembangunan ekonomi yang selama ini digerakkan dari pusat-pusat pertumbuhan mesti berubah pola. Pembangunan ekonomi harus merata sehingga gelombangnya terasa kemana-mana yang akhirnya akan berdampak pada kesejahteraan yang lebih luas.


Bukankah pembangunan ekonomi sejatinya untuk kesejahteraan bersama yang mesti dimulai dari segala arah dan menjangkau semua lapisan masyarakat, seperti buruh, petani, nelayan, pelaku UMKM, dan pedagang kecil tanpa kecuali.


Kita tidak ingin mengepung free market secara politik, kartel, atau pola-pola melanggar aturan dunia. Tetapi kita menyerbunya dengan keunggulan produk dan berbagai komoditas berkualitas secara massif yang dibutuhkan oleh umat manusia di seluruh dunia.


Revolusi mini ekonomi itu harus disegerakan dan melibatkan rakyat secara luas. Kita harus memberikan kesempatan kepada banyak orang untuk terlibat dalam mengelola sumber daya alam dan menikmati kemakmuran ekonomi. Karena sesungguhnya pembangunan, pertumbuhan, kemandirian, dan keadilan ekonomi untuk kesejahteraan bersama. Atau kita membiarkan diri kita menjadi korban dan mati dalam kemiskinan?!?

 

Penulis, Hidayat Muhallim (Alumni East West Center & University of Hawaii at Manoa, Hawaii-USA).

22 views0 comments