Iko-iko, Tradisi tutur yang sarat nilai kehidupan


penampilan Mak Qodo, penutur terakhir di festival kampung mendendangkan iko iko, tradisi berdendang dan bertutur suku same Bajo.

Iko-iko menurut Haji Burman adalah cerita sejarah tentang aktivitas hidup orang Bajo di masa lalu. Biasanya iko-iko diceritakan saat para orang tua (biasanya nenek) menghabiskan waktu senggang disaat tak melaut. Anak-anak akan berkumpul. iko-iko akan dibuka dengan menyebut tokoh yang akan diceritakan. Hanya saja saat ini iko-iko tidak lagi menyebut detail tokoh yang akan diceritakan. Menurut Mak’Qodo’, 80 tahun, di perkampungan Bajo Boepinang, iko-iko adalah warisan leluhur berupa cerita yang menjadi tradisi. Biasanya akan bercerita tentang asal usul, peristiwa besar, dan pesan-pesan nenek moyang untuk generasi berikut. Sedangkan Tanjeng, 70 tahun, di kampung Pallangga iko-iko itu adalah cerita nenek moyang yang dituturkan dengan melagukan. Biasanya iko-iko akan sangat detail diceritakan kalau si pencerita dalam keadaan “dongko”, semacam kerasukan. Berdasarkan hasil interview di beberapa kampung Bajo ini dapat disimpulkan iko-iko adalah tradisi lisan yang dituturkan dari generasi tua ke generasi setelahnya. Tradisi tutur ini bukan hanya bercerita tentang sejarah besar sebuah kampung atau kerajaan, tetapi sejarah rakyat biasa (folk story) yang menceritakan kehidupan sehari-hari. Iko-iko adalah juga media dokumentasi yang merekam setiap perestiwa hidup sehari-hari orang Bajo dimasa lalu yang membawa pesan dan nilai untuk disampaikan ke generasi selanjutnya.

Di kampung Hakatubo, iko-iko yang tertinggal adalah memori kolektif para orang tua yang rata-rata telah lanjut usia tentang bagaimana para ibu dan ayah mereka bercerita dengan melagukannya. Beberapa dari orang tua masih ingat alur cerita iko-iko. Tetapi, untuk melagukan seperti para orang tua melantunkan tiap cerita iko-iko sudah tidak ada lagi.

Menurut Haji Burman, iko-iko sebenarnya diciptakan untuk menyampaikan suatu pesan dan saat ini tak ada lagi yang melirik iko-iko seiring dengan berubahnya ekspresi-ekspresi kebudayan yang terkikis oleh ekspresi kebudayaan yang baru. Iko-iko dilupakan dan mulai surut saat tak ada lagi yang menggunakan bahasa Sama, bahasa asli orang Bajo. Bukan hanya tak tahu melagukan iko-iko, orang-orang di kampung ini tidak lagi tahu arti dari iko-iko itu apalagi untuk mengambil makna dan nilai pesan leluhur yang sebenarnya masih sangat dibutuhkan oleh orang-orang kampung ini.

saksikan filmnya di kanal youtube Mediaqita

Refleksi Kondisi Iko-iko dan Strategi Fasilitasi Masyarakat

Dengan menempuh jarak dua setengah jam, tim inventarisasi menuju ke kampung Bajo Boepinang bersama dengan tetua Bajo Hakatutobu mencari orang tua yang masih ingat iko-iko. Keputusan untuk berangkat ke kampung Boepinang bukan tanpa alasan, berdasarkan temuan dari tim inventarisasi dan dokumentasi, beberapa tetua kampung di desa Hakatutobu masih mengingat syair iko-iko. Tetapi pada kenyataannya, tak ada satupun orang tua yang tahu bagaimana melantunkan syair iko-iko tersebut. Dua orang perempuan renta berusia 70 tahun begitu malu dan sedikit pikun untuk di interview dan diminta untuk memperagakan iko-iko.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam menuju kampung Boepinang, sampailah tim di suatu rumah yang telah disambung menjadi ruang panggung, bagian depan rumah yang dibongkar dijadikan tempat menerima tamu. Dan ternyata, kedatangan kami pada saat itu bertepatan dengan prosesi perkawinan adat suku Sama Bajo yang hendak digelar. Sore nanti bendera sakral suku Sama yang dipakai oleh seluruh suku Sama Bajo yang mendiami semenanjung barat kabupaten Pomalaa, mulai dari Dawi-dawi, Tambea, Hakatutobu sampai dengan Boepinang, Kab upaten Bombana akan dinaikkan. Diiringi tabuhan gendang yang sebelumnya dimulai dengan upacara Mangolo, ritual tolak Bala suku sama Bajo.

Akhirnya, seorang perempuan tua berumur 76 tahun bernama Mak’Qodo muncul. Dengan semangat ia bergabung dengan tim inventarisasi. Malam hari tepat setelah shalat isya, aktivitas rekaman iko-iko dengan Mak’Qodo dimulai, dengan antusias ia bercerita, termasuk cerita kesedihannya akan tradisi orang Sama yang semakin memudar dan tak ada satupun orang atau tokoh yang secara sungguh-sungguh menyelamatkan warisan leluhur moyangnya.

Setelah perekaman selesai, hasil rekaman ini akan ditayangkan di Kampung Bajo Hakatutobu melalui program sinema Kampung untuk kemudian didiskusikan dengan komunitas, generasi muda dan generasi tua. Selain itu, tujuan aktivitas ini juga diharapkan dapat menjadi pemicu generasi tua untuk kembali mengingat dan bercerita tentang kehidupan dan memetik nilai dari pesan leluhur mereka.

Proses ini bukan hal yang singkat. Setelah direkam, maka tim MediaQita akan mentraliterasi dari bahasa Sama ke bahasa Indonesia. Proses transliterasi ini melibatkan banyak pihak dan unsur komunitas. Salah satunya adalah kader budaya yang dibentuk untuk mendampingi program Revitalisasi Budaya Komunitas Bajo Hakatutobu. Kader ini direkrut berdasarkan minat dan potensi personal melalui seleksi keaktifan dalam proses program. Tim dan kader budaya akan bekerja secara langsung belajar bersama dalam setiap tahapan proses program dengan tim MediaQita. Bentuk pendampingan kader ini menggunakan metode Andragogy—metode pendidikan popular untuk pembelajaran kritis akan masalah sosial budaya di suatu komunitas.

Kader budaya membantu proses transliterasi yang secara langsung bertanya, mencatat dan mentransliterasi setiap bait syair iko-iko hasil dari rekaman tim inventarisasi dan dokumentasi. Kedepan, para kader akan dilatih untuk memfasilitasi diskusi kampung, dengan materi perencanaan, implementasi, monitoring evaluasi dan strategi keberlanjutan aktivitas.

Nilai Kehidupan Dalam Syair Iko-iko

“sebenarnya nenek moyang kita sudah berpesan tentang bagaimana mereka menempuh hidup. Walau berbeda zaman, nenek kita toh telah menyampaikan konsep yang sampai sekarang masih bisa dipakai. Dan saya sendiri masih memakainya, hanya saya sangat sedih karena generasi bukan hanya tidak lagi ingin belajar iko-iko ini. Hasilnya, banyak nilai yang hilang tergantikan dengan nilai baru, para generasi muda lebih suka yang instan, ingin kaya tapi tak mau bekerja, atau kalau bekerja hari ini, hari ini juga pendapatan mereka itu juga akan habis hari ini”.

Penjelasan dari Haji Burman, tokoh yang pernah jaya saat masa keemasan tripang dan dapat membawa ia, istri dan ibunya ke tanah suci dipertengahan tahun 80-an, ini merujuk pada syair iko-iko hasil rekaman tim inventarisasi budaya saat membantu mentransliterasi ke bahasa Indonesia.

Niane bele’ munanne kite ale’ papu’ alla taale

Nabbi muhamme’ ansiru isine boe’

Marannune yo’ne amombo’ iru mau aku yo’nie

Nggai mappallaoh niane kau meaang kite

Itu isi boe’ kadare’ naniane sini ansini

Nta’te naniane pemeye utahte na nia’ne taguante dirite

Kasian si dinda Bajo

Kita ini harus bersyukur, rejeki ini diberikan

Tuhan, Nabi dan Nenek moyang dari laut

Meski kita tak turun ke laut,

Rejeki ini dari Tuhan dan Nabi yang telah berikan

Ada yang dimakan

Ada yang harus dibayarkan utang

Dan ada yang harus disimpan

Yang Maha Kuasa yang memberikan berkah

....Iko-iko, Tradisi tutur yang sarat nilai kehidupan

Kasihan si dinda Bajo

Mari kita pergi ke laut

Mencari rezeki sepenuh hati

Agar Tuhan memberikan rezki-Nya

Dan kalau ada rezeki harus beramal

Supaya lebih diberkahi Tuhan dan Nabi-Nya

(transliterasi kode:7.2.5)

Ada empat pesan tentang pengelolaan penghidupan, mungkin saja manajemen keuangan dari syair iko-iko ini. Menurut pak Haji Burman, ada tiga pesan untuk selamat di dunia dan satu pesan untuk selamat di akhirat.

Pesan utamanya adalah, bekerjalah dengan sepenuh hati (sungguh-sungguh) niscaya kamu pasti akan memperoleh rezeki dan jika telah mendapat rezeki maka ada yang harus dibelanjakan untuk dimakan sesuai keperluan, ada yang harus disisihkan untuk dibayarkan hutang dan ada yang harus disimpan untuk ditabung. Pesan akhirnya adalah sebagian rejeki yang di dapat harus dipakai menolong orang.

Dari penjelasan ini, Haji Burman kemudian membagi pengalaman kesuksesannya melalui pesan syair iko-iko, memberi sugesti dan semangat untuk tetap bekerja dan jangan menyerah pada keadaan. Tujuan dari proses-proses aktivitas ini adalah adanya perubahan pola pikir komunitas yang sebagian besar tidak mau bekerja keras dan jika bekerja tidak tahu mengatur pendapatannya sehingga terlilit hutang untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Kondisi ini hampir dialami sebagian besar penduduk Hakatutobu yang berprofesi sebagai nelayan dan anak muda yang bekerja di perusahaan tambang lokal.

24 views0 comments