Kemiskinan antara takdir dan nasib


Tulisan oleh Sinaryatie Saloh

Saya termasuk orang yang tidak percaya, kemiskinan adalah takdir.

Kemiskinan adalah nasib yg bisa dirubah. Intervensi tak berkesudahan, baik jangka pendek, menengah, maupun panjang agar orang bisa dibantu keluar dari kemiskinan bisa dilakukan.


Namun selama pemangku tanggung jawab baik di eksekutif, di legislatif, maupun yudikatif, di pusat maupun daerah masih korupsi, maka pengentasan kemiskinan masif sulit terwujud.

Ditingkat state PIG adalah penyebab utama kemiskinan tak mau bergerak (poverty, ignorance and greed).


Ditingkat personal kemiskinan tak bergerak karena kemalasan.


Mari belajar dari Anne Avantie....puluhan tahun silam pusat bisnisnya dibakar di Solo oleh kerusuhan rasial karena kepentingan politik. (kalo ingat ini saya sulit berdamai dengan kelompok tertentu yg menjadi penyebabnya, dan sampai sekarang ditengarai masih menjadi pendukung biang rusuh Indonesia).

Anne bangkit tak kenal lelah, dan penderitaan nya membawanya menjadi perancang busana tingkat nasional yg sukses yg tidak hanya memberinya kesempatan mendapat materi berlimpah, namun juga untuk berbuat baik pada sesama.


Namun tidak semua orang setangguh Anne. Lifetime education, pengalaman, pencerahan, kesempatan, masih dibutuhkan bagi mereka yg belum tersemangati.


Jika ingin berjuang membantu orang keluar dari kemiskinan, banyak cara bisa dilakukan. Mendukung program yg mengeluarkan orang2 dari kemiskinan, menyumbang pada program atau proyek yg bekerja untuk mengurangi kemiskinan, ikut kegiatan advocacy anti korupsi dalam segala bentuk, mendukung orang2 baik yg bekerja meningkatkan kesejahteraan manusia.


Yang paling sederhana yg bisa dilakukan oleh setiap orang, adalah 1. Mendukung orang2 baik, dan 2. menyumbang pada program atau proyek yg bekerja untuk mengurangi kemiskinan.


Cara paling sederhana bisa dilakukan untuk yg kedua, misalnya menyumbangkan point ovo kita untuk program sosial kemanusiaan, memberikan logam pada program coin for education, atau lainya, yg tak akan merugikan kita, namun mungkin sudah tercatat sebagai pahala, dan memberi rasa bahagia.


Memposting kegiatan orang baik yang berdampak pada pengurangan kemiskinan, misalnya, untuk yang pertama.


Dengan sirnanya kemiskinan, kita tak perlu lagi mendengar kisah sedih ortu yg memaksa anaknya menikah di usia dini, suami yg ikut menjajakan istrinya yg sedang hamil tua, ibu rt yang terpaksa jadi pengedar narkoba dan berjuta juta kisah sedih lain nya.


Tak perlu menunggu pemerintah, kita bisa bersama ikut membantu.


#mysecondbreakfast


19 views0 comments