Literasi Digital, Indonesia di posisi sedang

ditulis oleh Deandra Syarizka


Survei di 34 provinsi yang dilakukan Katadata Insight Center (KIC) bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika mengungkapkan bahwa status literasi digital Indonesia termasuk kategori sedang dengan skor 3,47 dari 5. Tingkatan tertinggi literasi digital berada di wilayah tengah seperti Bali, Kalimantan, dan Sulawesi.


Survei dilakukan terhadap 1.670 responden pada 18-31 Agustus 2020. Responden terdiri dari 50,1 persen laki-laki dan 49,9 persen perempuan, serta merupakan anggota rumah tangga berusia 17-30 tahun dan mengakses internet dalam tiga bulan terakhir.

Pengukuran status literasi digital dilakukan dengan mengacu pada standar UNESCO. Indeks literasi digital terdiri dari empat subindeks, yaitu

  • Subindeks 1: Informasi dan literasi data (informasi dan literasi data, berpikir kritis)

  • Subindeks 2: Komunikasi dan kolaborasi (kemampuan berkomunikasi, dan etika dalam teknologi)

  • Subindeks 3: Keamanan (keamanan pribadi, keamanan perangkat)

  • Subindeks 4: Kemampuan teknologi.

Survei menunjukkan Indonesia wilayah tengah memimpin di hampir semua sub-indeks, kecuali sub-indeks 1 mengenai informasi dan literasi data. Sementara wilayah timur mendapat skor terkecil, kecuali di sub-indeks 1 skornya terbesar. Wilayah barat mendapatkan skor terkecil di sub-indeks 1.


Ada enam faktor yang mempengaruhi indeks literasi digital, yakini usia, jenis kelamin, pendidikan, kemampuan mengenali hoaks, pemakaian internet, dan domisili.

Sayangnya, indeks literasi digital berbanding terbalik dengan kebiasaan positif dalam mencerna berita online dan kecenderungan untuk tidak menyebarkan hoaks. Artinya, semakin tinggi literasi digital, justru semakin rendah kebiasaan positif dalam mencerna berita online dan kecenderungan untuk tidak menyebarkan hoaks.

Mulya Amri selaku Direktur Riset KIC dalam konferensi pers virtual menyatakan pemahaman mengenai hoaks tidak membuat seseorang menahan diri untuk tidak menyebarkannya. Hal ini tercermin dalam survei di mana 11,2 persen responden menyatakan pernah menyebarkan hoaks.

Terdapat beberapa alasan dari responden yang mengaku pernah menyebarkan hoaks. Sebanyak 68,4 persen di antaranya mengatakan hanya ingin mendistribusikan informasi meskipun belum memverifikasi kebenarannya.

Sementara 56,1 persen lainnya tidak mengetahui hoaks, 13,9 persen tidak mengetahui sumber berita secara jelas, 9,1 persen menyatakan sekedar iseng dan 2,7 persen lainnya untuk mempengaruhi orang.

“Masyarakat yang tinggal di pedesaan cenderung tidak menyebarkan hoaks. Masyarakat di perkotaan lebih banyak terpapar, sehingga dengan mudah menyebarluaskan,” ungkapnya.

Laporan ini juga mengungkapkan bahwa mayoritas masyarakat lebih mempercayai informasi dari televisi dan media sosial, ketimbang situs pemerintah maupun portal berita online. Separuh lebih responden mempercayai informasi yang beredar di WhatsApp. Berbeda dengan masyarakat di daerah terdepan, terpencil, dan tertinggal yang lebih mempercayai informasi dari situs pemerintah dan televisi.

80 views0 comments