Menemukan Kembali, Proses Awal Revitalisasi Budaya dengan inventarisasi dan dokumentasi


Aktivitas program inventarisasi dan dokumentasi budaya bertujuan untuk mengumpulkan dan mendokumentasikan ekspresi budaya orang Bajo yang ada di desa Hakatutobu. Inventarisasi dan dokumentasi budaya ini mencakup segala aspek budaya baik berupa pengetahuan, prilaku dan ekspresi dari komunitas Bajo Hakatutobu.

Kegiatan inventarisasi ini pada dasarnya adalah sebuah riset ksualitatif yang menggunakan metode etnografi praktis yang dilakukan oleh tim MediaQita. Beberapa media riset yang utama banyak menggunakan empat jenis data, yaitu audio visual, fotografi, rekaman suara dan catatan-catatan lapangan. Rekaman audio visual banyak dilakukan untuk merekam keseluruhan aktivitas komunitas yang berhubungan dengan budaya. Wawancara mendalam dengan menggunakan media ini juga banyak dilakukan hal ini sangat berguna untuk membantu proses komunikasi termasuk dalam validasi data dalam komunitas Hakatutobu yang sebagian besar kurang dapat membaca. Rekaman audio banyak dilakukan saat melakukan wawancara dan juga saat merekam ekspresi budaya seperti dalam dokumentasi kesenian seperti tradisi tutur dan musik serta syair-syairnya. Metode fokus grup diskusi juga digunakan dengan membagi komunitas dalam kelompok, seperti kelompok laki-laki dewasa, perempuan, anak-anak serta elemen masyarakat seperti tokoh dan aparat desa. Dalam menggunakan metode fokus grup diskusi ini ada cerita menarik yang kami dapatkan. Salah satunya adalah bahwa komunitas ini telah terbiasa dengan pertemuan warga yang banyak dilakukan di balai desa, sebagian besar pertemuan itu banyak didominasi oleh kelompok elit di dalam komunitas. Hasilnya, banyak suara-suara dari anggota komunitas direpresentasi oleh elit. Sebagai hasilnya banyak hasil diskusi yang terungkap di dalam pertemuan warga semacam itu menjadi bias, karena segala representasi itu didasarkan pada kepentingan dari elit komunitas. Untuk menghindari hal tersebut, kami melakukan wawancara “dari pintu ke pintu” dengan komunitas dimana hasilnya cukup efektif untuk mendapatkan gambaran yang jelas kondisi dari komunitas ini.

Sebagai langkah pertama, aktivitas perkenalan dengan komunitas yang kami lakukan di akhir tahun 2008 dilakukan dengan melakukan kegiatan lomba kreatifitas anak-anak. Tim dokumentasi dengan berbekal peralatan dokumentasi dengan telaten mendokumentasikan kegiatan ini. Hal ini bermaksud untuk mengenalkan kehadiran kami dengan seluruh peralatan pendukung kami, seperti kamera video, foto dan perekam suara yang kami tahu sebagian dari mereka belum pernah menyentuh bahkan melihat peralatan kami. Dengan kegiatan awal ini kami mendapat keuntungan dengan mengenal anak-anak serta remaja yang aktif terlibat di kegiatan awal. Sebagian besar remaja desa juga kami libatkan sebagai panitia pengelola kegiatan. Perkenalan dengan anak-anak dan remaja ini kemudian hari sangat efektif untuk membawa kami kepada kelompok masyarakat lainnya.



Melalui anak-anak dan remaja, kami kemudian banyak berdiskusi di sela-sela kesibukan mereka untuk melaut, sekolah dan bekerja sebagai buruh tambang. Sebagian besar dari mereka banyak yang tidak bersekolah, masih terbayang untuk menulis daftar hadir yang kami bagikan mereka banyak yang tidak dapat menulis namanya, kalaupun ada yang menulis sebagian besar dengan huruf yang tidak lengkap. Diskusi-diskusi ini dilakukan dengan bermain atau saat menemani mereka menangkap ikan kala air laut lagi surut. Diskusi ini banyak melahirkan data-data yang kami perlukan seperti kelender musim, rangking kesejahteraan menurut anak-anak, cerita kampung, gosip-gosip orang tua, silsilah keluarga serta informasi yang dalam diskusi kelompok di pertemuan desa tidak pernah kami dengar.

Kedekatan kami dengan kelompok ini menciptakan hubungan yang sangat bermanfaat tak kala kami dengan dibantu oleh kelompok remaja melakukan dokumentasi budaya. secara paralel kami juga melakukan pemetaan komunitas dan stakeholder seperti tokoh masyarakat, unsur pemerintahan desa, tokoh agama, kelompok generasi muda laki-laki dan perempuan serta anak-anak. Pemetaan ini diperlukan untuk mendapatkan partisipasi stakeholder sekaligus mendapatkan isu-isu dari perspektif mereka dengan tujuan untuk menghidari dalam membuat asumsi-asumsi tentang apa yang kami dapatkan sebelumnya baik dari hasil studi awal dan data-data sekunder lainnya. Berkonsultasi dengan komunitas dalam meklarifikasi banyak isu-isu penting seperti apa yang menyebabkan masalah dalam komunitas, apa yang mempengaruhi mereka, dan perubahan apa yang mereka inginkan. Dalam konsultasi ini, pendekatan budaya yang mengarah pada identitas dan perasaan yang dalam akan entitas budaya menjadi media yang efektif untuk berkomunikasi, kemudian untuk selanjutnya dapat dilanjutkan dengan isu-isu lain seputar kondisi sosial komunitas.

Sebagai bagian dari konsultasi ini, salah satu yang paling penting adalah mendpaatan pemahaman akan masalah, penyebab dan perubahan seperti apa yang diinginkan komunitas di tiap-tiap lokasi dan kelompok komunitas. Begitu juga dengan isu-isu yang spesifik, kami mengumpulkan ide pendapat dari semua kalangan termasuk dapat mengidentifikasi secara detail kelompok-kelompok yang tak pernah didengar dan paling rentang seperti kelompok komunitas yang paling miskin, anak-anak dan perempuan. Saat berkonsultasi inipula secara khusus kami mengidentifikasi kelompok-kelompok yang paling berpengaruh baik secara formal dan informal di desa Hakatutobu. Dimana kelompok ini banyak mempunyai kuasa untuk mempengaruhi dan membuat perubahan, kelompok ini pula yang mempunyai pengatahuan, pengalaman, dan kapasitas yang dapat mendukung kegiatan program kami.

Selanjutnya, untuk memastikan pemahaman kami terhadap komunitas ini menjadi data yang “valid” (termasuk data-data yang kami kumpulkan dengan dokumentasi) kemi menerapkan berbagai metode untuk mengumpulkan dan membandingkan informasi dari berbagai sumber. Salah satu metode yang paling efektif adalah dengan menggunakan data hasil dokumentasi rekaman audio video. Dengan memutarkannya dari satu kelompok ke kelompok lain atau dari invdividu ke individu lain. Validasi data ini banyak dilakukan di rumah-rumah, di atas perahu sampai dengan kegiatan pemutaran film yang kami sebut dengan sinema kampung. Banyak hal yang kami dapatkan dari proses ini, setelah melihat hasil rekaman data kami, maka diskusipun menjadi sangat efektif dalam memverifikasi data yang kami kumpulkan. Semua proses diskusi juga kami dokumentasikan dengan merekam semua proses baik itu saat tanya jawab atau saat mereka berdebat. Segala kesimpulan kemudian kami rangkum dalam bentuk tulisan dan rekaman yang telah diedit menjadi suatu cerita untuk kemudian kami tayangkan kembali di dalam program sinema kampung.

Jadi langkah awal dari inventarisasi dan dokumentasi ini bukan saja menyangkut pendokumentasian budaya atau ekspresi seni budaya tetapi secara paralel telah mengumpulkan data yang menjadi hasil dari tahap “need assesment”.

Dari keseluruhan kegiatan inventarisasi dan dokumentasi terhitung mulai Agustus 2009 sampai dengan Juni 2012, aktivitas program Inventarisasi Dokumentasi intensif telah mengumpulkan 668 jam rekaman video (RAW footage)yang yang berisi ritus/ritual, situs/tempat-tempat ekspresi budaya, bahasa (kamus bahasa bajo Hakatutobu), serta folklore (legenda, musik, sejara lisan, pantun, lawakan, kepercayaan-kepercayaan, dongeng, cerita serta kebiasaan kebiasaan. Pengklasifikasian ini menggunakan dua metode. Metode pertama klasifikasi berdasarkan klasifikasi Jhonson dan metode kedua menggunakan klasifikasi berdarkan output perogram revitalisasi budaya. Dokumentasi lainnya adalah rekaman audio kami mengumpulkan satu album audio berisi 12 lagu gambus tradisional, 40.000 slide digital foto, 20 cerita rakyat serta inventarisasi kata dasar dan tata bahasa Same telah terkumpul. Tahapan selanjutnya dari proses inventarisasi ini adalah klasifikasi, transkripsi, transliterasi dan penyajian, serta pustaka kampung. Proses penyelesaian akhir ini akan berbentuk DVD, publikasi teks seperti buku, CD dan foto serta booklet. Terkhusus untuk produksi video telah dihasilkan 32 judul produksi baik fiksi atau dokumenter. Hal ini kemudian menjadi bahan pustaka kampung di tahap berikutnya.

Selain itu, interpretasi nilai dari setiap hasil dokumentasi ini telah digunakan untuk kampanye, baik berupa media cetak maupun elektronik yang akan mendukung kampanye penyadaran dan kepedulian akan isu-isu pendidikan, kesehatan dan partisipasi komunitas. Selain itu yang paling menarik adalah dengan kondisi literasi masyarakat yang rendah penggunaan media audio visual sangat membantu bukan saja dalam komunikasi tetapi pada pengambilan keputusan bersama. Selain itu seiiring dengan kegiatan inventrisasi dan dokumentasi ini, komunitas, dalam hal ini kelompok remaja juga telah melakukan kegiatan sejenis. Dengan membagi pengetahuan dan pengalaman kami baik dengan pelatihan dan bekerja bersama, saat ini mereka juga telah dapat melakukan dengan menginisiasi kelompok remaja melakukan dokumentasi budaya.

0 views0 comments