Praktek Cerdas dan berbagi pengalaman dalam proses implementasi program revitalisasi budaya.


oleh; Sapril Akhmady, MA.


Sebagai praktek cerdas dan berbagi pengalaman dalam proses implementasi program maka dibawah ini adalah beberapa paparan yang dirangkum dalam setiap proses implementasi aktivitas program revitalisasi budaya komunitas Bajo Hatutobu. Dalam paparan ini akan mencakup proses, tantangan, hasil yang dicapai serta impact terhadap masyarakat dan perusahaan.

Melihat yang tak terlihat;

proses awal identifikasi dan sosialisasi program.

Sebagaimana di awal dalam paradigma implementasi program community development, salah satu perubahan signifikan yang diharapkan dari pelaksanaan program comdev adalah bahwa pelaksanaan comdev bukan lagi bekerja untuk rakyat tetapi menjadi bekerja bersama masyarakat. Oleh sebab itu dalam proses pelaksanaan program revitalisasi budaya, semua aktivitas program mengedepankan proses dimana unsur kemandirian termasuk didalamnya adalah partisipasi aktif komunitas sangat dikedepankan. Proses partisipasi yang diharapkan dalam program revitalisasi budaya ini bukan hanya dengan membuka ruang representase. Tetapi, lebih jauh proses partisipasi mensyaratkan semua komponen masyarakat yang didalamnya adalah anak-anak, remaja dan orang tua. Proses awal dimulai dengan community need assessment (analisa kebutuhan masyarakat) dilakukan dengan sangat tidak formal. Pendekatan tidak formal ini adalah wujud dari strategi pelaksanaan pendampingan yang seringkali menggunakan metode representatif. Oleh sebab itu, tim comdev PT. Antam tbk. Sultra mensyaratkan lembaga mitra untuk melakukan kegiatan yang grounded atau membumi. Sebagai hasil dari pendampingan intensif yang dilakukan oleh mitra pada akhirnya merupakan kunci yang sangat detail membuka tabir validitas kebutuhan masyarakat analis aktor dan stakeholder dalam pembangunan. Metode yang mensyaratkan live in atau tinggal bersama dan merasakan apa yang dirasakan komunitas merupakan bagian yang sangat efektif dalam mengidentifikasi kebutuhan masyarakat. Seringkali metode diskusi kelompok terfokus atau yang dikenal dengan nama FGD terkendala oleh representase dari kepentingan elit. Ditambah lagi dengan kemampuan individu masyarakat yang telah kehilangan kepercayaan diri untuk mengungkapkan pendapat. Hal ini juga dipicu oleh banyak factor terutama kondisi sosial dan tata pemerintahan desa yang sangat lemah dalam sektor pelayanan publik.

Dengan menggunakan peralatan media seperti media audio visual yang menjadi ciri khas proses pendampingan yang dilakukan oleh yayasan MediaQita ternyata cukup efektif dalam konteks sosial masyarakat Bajo. Membuka ruang sekat antara pendamping dengan komunitas dilakukan dengan melakukan kesepakatan yang disampaikan dari rumah ke rumah. Hal ini dilakukan karena pada awal inisiasi program, bukan hanya dari segi kualitas diskusi tetapi dari segi kuatitas komunitas Bajo Hakatutobu memilki tingkat partisipasi yang sangat minim dalam bentuk pertemuan komunitas di tingkat desa bahkan dusun. Dengan metode gabungan dan instrumen yang tepat pada akhirnya assesment kebutuhan masyarakat dapat secara detail memotret sisi sosial kehidupan komunitas ini sehingga dengan adanya data yang mendetail aktivitas yang menjadi tujuan dari program revitalisasi budaya ini dapat lebih diterima dalam proses implementasinya. Saat ini komunitas budaya Hakatutobu telah dengan mudah untuk berkumpul dan berdiskusi serta mendokumentasikan proses dan hasil dari diskusi tersebut secara mandiri.

Menumbuhkan nilai kebersamaan;

upaya meningkatkan semangat partisipasi dengan nilai lokal masyarakat

Program revitalisasi budaya komunitas Bajo Hakatutobu pada dasarnya adalah sebuah program yang menuntut perubahan pola pikir komunitas. Oleh sebab itu, kesadaran komunal merupakan syarat yang harus dipenuhi dalam program ini. Sebagai konsekwensinya adalah waktu yang panjang dan berkelanjutan secara langsung akan dibutuhkan dalam pelaksanaan program. Dengan demikian awal dari aktivitas program ini adalah dimulai dengan membangun kesadaran dan kebersamaan. Sebagai tahap awal, program ini dengan menggunakan pendekatan budaya dengan perspektif pengetahuan, prilaku dan produk budaya menyentuh isu identitas budaya yang telah bergeser. Komunitas Bajo utamanya generasi muda tidak lagi dapat menemukan ekspresi budaya seperti kesenian dan juga pengetahuan seperti bahasa dan pendukung ekspresi budaya tersebut.

Dengan diskusi kampung, sebuah program pertemuan masyarakat yang mengadopsi pola diskusi terfokus dan klaster kebutuhannya didapatkan sebuah pengalaman menarik yaitu hampir semua komunitas menyepakati bahwa mereka tidak ingin kehilangan jati diri atau identitas etnis mereka. Walaupun di desa Hakatutobu komunitas ini telah kawin mawin dan juga dipengaruhi oleh budaya komunitas etnis mayoritas yaitu suku To Laki Mekongga. Hal ini menjadi menarik. Dengan kesepakatan ini maka program pelestarian budaya menjadi program yang sangat didukung dengan tingkat keterlibatan yang sangat optimal dalam setiap aktivitasnya. Anak-anak muda yang dahulu tidak mau tahu atau merasa minder dengan disebutnya mereka sebagai anak Bajo mulai merasa bahwa entitas budaya mereka juga adalah bagian yang harus mereka jaga. Anak-anak sebagai elemen masyarakat juga tak luput dari pelakasanaan program ini. Dengan metode pendekatan yang mengedepankan kesadaran bersama ini akhirnya anak-anak Haktutobu yang dahulu tidak mempunyai kesempatan dalam berekspresi akhirnya menjadi percaya diri dan mempunyai kesempatan untuk mendapatkan transpormasi pengetahuan tradisional dari generasi tua dengan program pelatihan seni tradisi yang secara intensif dilakukan selama kurang lebih setahun. Untuk mendukung keberlanjutan aktivitas ini, siklus program diterapkan dengan memberikan tanggung jawab untuk mentransformasi kepada generasi muda berikutnya.

Sebagai contoh kasus dalam proses ini adalah kesadaran komunitas ini untuk terlibat penuh mendukung pelestarian gambus dan pencak silat. Pelestarian seni budaya ini secara tidak langsung juga merupakan upaya meningkatkan pengetahuan budaya untuk menyadari potensi komunitas yang pada akhirnya membangun kesamaan nasib dalam sebuah gerakan pembangunan masyarakat. Konsep yang digali dari nilai budaya (bagian dari idea) untuk mengembalikan behaviour (nilai positif) dalam pembangunan masyarakat.

Belajar dari Hal kecil untuk meraih hal besar;

merangkul anak dan generasi muda.

Proses yang berfokus pada generasi muda, anak dan remaja, secara langsung memicu keterlibatan orang tua. Hal ini tercermin dari hasil dari proses pendampingan komunitas di bagian peningkatan praktek pola hidup sehat. Sungguh menarik karena dengan menggunakan pendekatan budaya resistensi atau secara nyata bahwa selama hampir kurang lebih empat puluh tahun program yang dirasakan oleh masyarakat terhadap kegiatan sosial perusahaan adalah menciptakan ketergantungan. Semua aktivitas program yang dahulu itu dilihat sebagai bantuan buat mereka. Kondisi ini tercipta dari pola pendekatan infrastruktur yang dikedepankan dan juga pola charity perusahaan yang diterapkan akhirnya menciptakan perspektif masyarakat terhadap semua kegiatan yang berhubungan dengan perusahaan.

Pola ini juga menciptakan pergeseran nilai akibat dari tidak tersebarnya penerima manfaat yang secara langsung memicu konflik internal di masyarakat. Bantuan rumah sehat sebagai contoh, dengan tanpa persiapan sosial dan komunikasi yang efektif maka lahirlah kecemburuan di antara masyarakat. Pada kenyataannya generasi tua yang mengalami langsung akibat dari proses ini kemudian menjadi resisten dengan ide-ide dari aktivitas program. Dengan memasukkan komponen anak sebagai langkah awal dari proses aktivitas secara langsung telah membawa pengaruh besar yang bukan hanya dikalangan anak dan generasi muda tetapi orang tua terutama di kalangan perempuan yang secara langsung melihat perubahan yang terjadi di anak-anak mereka.

Metode pendekatan anak akhirnya juga memberikan kesempatan kepada anak untuk berekresi di tengah komunitas yang memandang mereka sebagai bagian yang tidak dapat berbuat apa-apa dalam proses pembangunan. Proses pendampingan anak ini kemudian melalui rekam jejak program akhirnya dibagi dalam setiap diskusi kampung. Sebagai hasilnya, kesadaran dari manfaat yang dirsakan komunitas secara langsung diketahui oleh generasi muda. Sebagai contoh adalah pengalaman dari aktivitas bersih pantai yang diinisiasi bersama anak dan generasi muda pada awalnya menjadi kegiatan yang aneh. Dalam budaya komunitas Bajo hakatutobu, pantai menjadi “taked for granted”, sesuatu yang biasa dan bukan masalah. Karena sehari-hari mereka tidak lagi melihat kondisi pantai yang semakin hari semakin berubah. Dengan aktivitas program ini maka aktivitas pada akhirnya komunitas terutama generasi muda secara langsung membangun kesadaran untuk melakukan praktek hidup sehat dengan menjaga lingkungan pantai mereka.

Berbagi cerita untuk semua;

proses pelibatan semua komponen stakeholder yang akan menjamin keberlajutan hasil yang dicapai.

Karena proses adalah hasil dan faktor signifikan tujuan yang diharapkan dari program ini maka “duduk bersama” untuk melihat kembali sekecil apapun yang telah dicapai dalam implementasi program meruapakan hal yang harus dilakukan. Proses rekam jejak ini merupakan aktivitas wajib dari proses pendampingan, rekam jejak yang bukan hanya berupa text melainkan dalam bentuk audio visual akan membantu semua stakeholder untuk menerima informasi.

Di tiap caturwulan terdapat kegiatan seminar kampung yang dihadiri oleh seluruh stakeholder termasuk pemerintah dan seluruh komponen masyarakat termasuk manajemen perusahaan. Dalam seminar kampung ini sebuah ruang untuk saling berbicara dan berdiskusi memberi masukan bukan hanya kepada komunitas tetapi juga di luar komuniitas memberikan masukan menjadi sangat efektif. Ruang formal yang menciptakan keaktifan partisipasi karena dilakukan di wilayah komunitas bukan di hotel mewah dan dihadiri oleh representase elit komunitas. Seminar kampung ias dihadiri siapa saja dan berbicara tentang apa yang telah dilakukan komunitas dan apa yang diharapakan kedepan. Proses ini disaksikan langsung oleh penentu kebijakan dari pemerintah dan manajemen Antam. Ruang ini juga akan membuka komunikasi yang efektif antara pihak perusahaan dan komunitas serta pemerintah yang bukan hanya tercipta untuk kepentingan satu aktor tetapi menjadi bagian sharing tanggung jawab. Selain itu komunikasi pola sederahana ini difasilitasi oleh komunitas menciptakan ikatan emosionil bagi perusahaan dengan komunitas di sekitar operasi. Diskusi kampung ini biasanya mengundang beberapa perwakilan dari desa lain serta unsure tokoh adat dari berbagai komunitas budaya. Melalui diskusi kampung ini menjadi jembatan infromasi kebijakan perusahaan yang berkait dengan rencana program bukan hanya yang terkait dengan implementasi program itu sendiri tetapi isu diluar program juga mengemuka. Kesempatan ini pula pihak comdev serta manajemen akan menerima sekaligus menerima masukan dari komunitas dan stakeholder lainnya.

Merekahnya Semangat Mandiri komunitas;

media pembelajaran efisien yang menguntungkan dalam program pembangunan infrastruktur berbasis komunitas.

Seperti dalam kurva fungsi tahapan implementase program. Infrastruktur mandapat proporsi terkecil dari rangkaian kegiatan semisal peningkatan kapasitas dan pemberdayaan. Dalam implementase program revitalisasi budaya sebagaimana penjelasan terdahulu yakni semua aktivitas program merupakan kesatuan yang terikat dan saling mempengaruhi. Salah satu contohnya adalah peningkatan partisipasi komunitas dalam proses pembangunan melakukan kegiatan aktivitas program dengan nama pengembangan kawasan berbasis masyarakat. Aktivitas program yang berfokus dalam peningkatan partisipasi ini menjadikan program infrastruktur dalam kegiatan pengembangan kawasan sebagai wadah pembelajaran untuk meningkatkan kualitas partisipasi komunitas dalam pembangunan. Dalam proses aktivitas program ini ide awal pengembangan kawasan berawal dari proses need assessment analysis di program diskusi kampung dengan anak-anak yang kemudian ditindak lanjuti dengan rekomendasi solusi menurut anak-anak. Rekomendasi inilah yang kemudian dibawa ke diskusi kempung dengan kelompok orang tua sehingga orangtua mengetahui ide dari anak-anak melihat kondisi kampungnya. Salah satu sumbangsih ide dari anak-anak ini adalah dibangunnya jerambah yang baru, jembatan penghubung antar rumah telah banyak yang hancur. Ide ini muncul akibat dari banyaknya anak-anak yang terjatuh ketika melintasi jerambah yang rusak.

Berdasar dari rekomendasi anak-anak inilah maka ide ini kemudian dibagikan untuk ditanggapi oleh seluruh komunitas dalam proses diskusi kampung. Dari rangkaian diskusi kampung yang dilakukan oleh kelompok orang tua maka terbentuklah kelompok tim kerja untuk menyelenggarakan pertemuan desa untuk mengundang seluruh komponen masyarakat desa. Proses ini kemudian terlaksana setelah diskusi kampung dilakukan dengan disepakatinya panitia kampung untuk bertanggungjawab terhadap pelaksanaan pembangunan kawasan desa.

Ada hal yang menarik dari proses ini, salah satunya adalah unsur panitia ini kemudian disepakati dari anak muda untuk dijadikan proses belajar. Anak muda kampung yang sebelumnya telah dilatih dalam proses peningkatan kapasitas masyarakat termasuk, community organizing, pengorganisasian masyarakat. Selain para remaja desa untuk pertama kalinya juga akan mempraktekkan materi pengadministrasian dengan menggunakan komputer termasuk di dalamnya adalah pengelolaan proyek berbasis komunitas. Beberapa tokoh masyarakat di awal proses diskusi menjadi resisten dengan rekomendasi sebagian peserta terutama kelompok elit yang selama ini mendapat keuntungan dari program infrastruktur yang menggunakan tenaga pihak ketiga. Namun akhirnya, dengan musyawarah seluruh komunitas yang diikuti oleh komponen desa (Kades, Tokoh masyarakat, BPD, dan LPM) menyetujui panitia komunitas berasal dari generasi muda hasil dari pendampingan komunitas program revitalisasi budaya komunitas Bajo Hakatutobu.

Dengan proses ini maka beberapa rangkaian kegiatan ini antara lain pelatihan pengerjaan teknis kemudian diikuti komunitas dengan cara mendaftar dan kemudian berhasil menyelesaikan tahapan mulai dari pengadaan material yang dilakukan dengan tender terbuka dengan seluruh komunitas. Sampai pada pengontrolan kualitas material yang dilakukan secara bersama. Semua proses ini kemudian membawa manfaat antara lain;

Ide desain pekerjaan berasal dari komunitas.

Jenis Material yang digunakan benar-benar sesuai perencanaan.

Pada setiap tahapan proses, warga komunitas mendapatkan kesempatan untuk menambah pengetahuan dan keterampilan mengelola kegiatan.

Prioritas kebutuhan desa, ditetapkan bersama-sama secara partisipatif.

Sarana kompetisi yang sehat dan bermartabat .

Dari segi efisiensi dengan pengerjaan swakelola masyarakat dapat dilihat secara detail di bawah ini;


Dari detail ini dapat dilihat bahwa pekerjaan swakelola masyarakat dari segi pembiayaan pada dasarnya menjadi sangat menguntungkan bukan hanya dari aspek manfaat pengetahuan tetapi dari segi pembiayaan itu sendiri. Dengan kesepakatan pengelolaan yang pertisipatif akhirnya komunitas dapat berkreasi dengan improvisasi positif menambah volume dari perencaan yang akhirnya secara langsung akan menambah manfaat bagi komunitas.

Praktek cerdas dan manfaat bagi perusahaan;

Rekomendasi dan Epilog.

Program community development dan seluruh rangkaian aktivitasnya pada dasarnya adalah suatu bentuk dari corporate social responsibility atau tanggung jawab sosial perusahaan dalam melaksanakan kegiatannya berusaha di sebuah wilayah tertentu. Dari beberapa praktek diatas dapat dilihat bahwa komunitas menjadi elemen kunci dalam keberlanjutan perusahaan dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan kata lain bahwa izin lokal didapat oleh perusahaan dengan melalui kerjasama kepentingan untuk membangun komunitas dalam segi kesejahteraan penduduk yang ada, dapat mengantarkan perusahaan sebagai bagian masyarakat. Dengan demikian perhatian kepada komunitas lokal menjadi basis dalam menggalang kekuatan perusahaan dalam lingkup yang lebih luas dan dilakukan secara strategis. Dari pengalaman implentasi program Revitalisasi Budaya komunitas Bajo Hakatutobu. Beberapa manfaat yang mendukung perusahaan dalam konteks keberlanjutan perusahaan yang pertama adalah, mengurangi resiko sosial. Dengan melakukan program yang berbasis kebutuhan masyarakat (community based) yang ditemukenali dan dilaksanakan bersama masyarakat maka program community development terkhusus dalam program revitalisasi budaya telah mengurangi resiko konflik sosial. Hal ini tercipta dengan penerimaan masyarakat secara penuh menyadari penting dan manfaat yang ditimbulkan dari proses pelaksanaan. Dengan komunikasi yang efektif maka masyarakat secara tidak langsung bukan hanya mendukung pada saat program berlangsung tetapi lebih jauh akan memberikan jaminan keberlangsungan dukungan terhadap program comdev yang lain sekaligus kelangsungan usaha perusahaan.

Yang kedua adalah membentuk reputasi, dengan melaksanakan program revitalisasi budaya yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup komunitas yang khas seperti komunitas yang secara kultural termarjinalkan maka reputasi perusahaan terbangun dengan positif. Syarat dari terbangunnya reputasi itu salah satunya adalah dengan intensifitas proses serta intensitifitas komunikasi. Hal ini berkait dengan sejauhmana manfaat program ini diinformasikan kepada publik. Publik bukan hanya terdiri dari kalangan elit yang mempunyai epentingan seperti birokrasi dll, tetapi lebih jauh adalah setiap invidividu dan kelompok akar rumput yang kelak dapat konstituen. Proses pencitraan dan pembentukan reputasi perusahaan melalui program community development yang khas dan sesuai dengan prinsip-prinsip CSR. Dalam program revitalisasi budaya, konteks reputasi perusahaan masih dalam proses karena salah satu yang ingin dicapai melalui program comdev CSR ini adalah kesepahaman secara internal dan eksternal. Meskpun demikian melalui publikasi-publikasi kecil dan beberapa unsure eksternal yang berkunjung melihat proses pelaksanaan program ini telah memberikan reputasi positif pada PT. Antam pada umumnya dan impact dari program pada khususnya.

Yang ketiga adalah membangun modal sosial. Proses membangun modal sosial adalah proses yang paling mendasar dari tujuan pelaksanaan program community development dan implementasi CSR pada perusahaan. Dengan proses pelibatan seluruh stakeholder dan sharing informasi mengenai hasil dari proses pelaksanaan program maka ikatan yang tercipta adalah terbangunnya modal sosial bukan hanya di internal pemanfaat atau komunitas tetapi modal sosial untuk perusahaan. Program Revitalisasi budaya komunitas Bajo Hakatutobu secara langsung membangun modal sosial atau kualitas sumber daya manusia di wilayah komunitas dengan mennggunakan proses peningkatan kualitas hidup. Malalui informasi yang efektif terhadap pesan dan manfaat dari proses yang benar maka timbullah kepercayaan terhadap perusahaan yang selalu berbuat dengan inovasi untuk kepentingan masyarakat, pemerintah dan seluruh stakeholder pendukung lainnya. Salah satu manfaat dari terbangunnya modal sosial ini adalah terciptanya hubungan yang harmonis dengan perusahaan. Masyarakat tidak lagi memandang perusahaan sebagai tempat untuk bergantung tetapi telah memandang perusahaan sebagai kawan seperjuangan dalam membangun. Konsep bekerja bersama komunitas telah membangun modal sosial yang akan mendorong nilai keberlanjutan.

Yang terakhir adalah dengan proses implementasi program community development telah mendapatkan manfaat nyata dari suatu proses menuju keberlanjutan. Aktivitas-aktivitas dalam program revitalisasi budaya telah memberikan proses pengetahuan hidup yang bukan hanya untuk kepentingan sesaat tetapi lebih jauh memberikan pengetahuan hidup yang akan menjadi bekal terhadap generasi masa depan. Sebagai rekomendasi penutup adalah program CSR PT. Antam Tbk dengan program comdevnya harus dapat memilih peran yang mendapat acuan dalam setiap arena yang ada. Pola kerja kemitraan merupakan suatu keharusan dengan mengedepankan fungsi dari proses keberlanjutan yang memeperhatikan potensi lokal. Kebersamaan dan kesetaraan sebagai rekan yang sinergis merupakan kunci perusahaan dalam melaksanakan kegiatannya hal ini menuntut perusahaan untuk berpartisipasi pada setiap bidang tingkatan serta isu-isu dimana korporat berada.

Perusahaan agar dapat langgeng dalam aktivitasnya harus menempatkan peran sesuai dengan status dalam pranata sosial yang berlaku dengan maksud untuk membentuk hubungan antara stakeholder yang seimbang sehingga program-program kerja pembangunan masyarakat tetap pada proses menuju keberlanjutan. Dengan proses dari ide-ide pembangunan masyarakat dari program community development perusahaan maka keberdayaan komunitas dan masyarakat sebagai bagian dari pengabdian sosial akan menjadi bagian strategis dari eksistensi PT. Antam Tbk.***

13 views0 comments