Sang Kunci Inggris: Mengenang Sang Maestro Viol komunitas Buli di Halmahera


Seniman serba bisa bernama Timi Tius lalang di desa Sailal. Oleh warga sekitar digelari dengan dengan kunci Inggris, ia membuat dan memainkan berbagai alat musik, pengrajin kayu, besi dan seorang tabib yang menguasai pengobatan tradisional orang Buli.


Menemui Timi Tius Lalang di rumahnya di Jalan Ian Toa desa Sailal, seorang perempuan tersenyum dan mempersilahkan kami masuk. Beberapa bulan ini kami memang modar mandir di rumahnya. Hari kami masuk ke rumah om Timi (Begitu kami mamanggil beliau) melalui pintu belakang. Bangunan depan rumahnya bertembok semen, sementara bagian belakang rumahnya terbuat dari papan. Dinding batu dan papannya belum dicat dan lantainya beralas tanah. Sang mastro keluar dari bilik rumah tembok bergabung dengan kami yang duduk di meja kayu buatan tangannya.

Timi Tius, seorang seniman yang tak mengenal baca dan tulis, kemampuan ingatannya bukan kepalang. Dengan senyum ia menjawab sambil sesekali berusaha mencari padanan kata dalam bahasa Indonesia akan setiap kali menanyakan sesuatu kepadanya.

Selain piawai bermain viol, tak salah orang orang disekelilingnya menggelari ia dengan “kunci inggris” yang berarti ia dapat memainkan alat musik apa saja dan bermain alat musik dengan siapa saja. Kemampuan menyelaraskan suara alat musik viol dengan lagu yang akan diiringinya seiiring dengan kelincahan tangannya memutar tuas pengatur tali violnya. Om Timi membuka wawancara kami dengan memainkan setengah menit lagu irama lala dengan iringan violnya.

Lagu lala inilah lagu yang dibawakan dan dipelajari oleh om Timi saat pertama kali belajar bermain viol dari kakak iparnya yang lebih dahulu piawai bermain viol di tahun tujuhpuluhan. Cara belajarnya adalah dua buah viol dimainkan berpasangan, yag satu akan diikuti oleh yang satunya. Sebagai langkah pertama belajar viol ini, sebuah lagu langsung akan dipelajari.

Pertengahan tahun delapan puluhan ia bergabung dengan kelompok tali dua yang lebih dikenal dengan nama musik Yanger saat ini. Sebuah rekaman album kelompok musik ini dilakukan yang berisi sembilan lagu. Menurut om Timi rekaman ini diinisiasi oleh Stanley Goeslaw dan kelompok musik tali dua yang dipimpin oleh Yan Dante.

Selain pandai bermain alat musik khususnya viol, om Timi juga membuat alat musik, selama sepekan ini ia merampungkan sebuah viol yang akan diberikan kepada kami. Dengan gamblang ia menjelaskan bagian bagian alat musik gesek ini. Beberapa bagian ia jelaskan dengan fungsinya antara lain, viol itu terdiri dari pusi pusi yang berfungsi sebagai penggesek (semua seniman viol di teluk Buli ini memakai kata iris). Ada juga kakamo, tangan penggeseknya serta salok, damar pengasahnya. Di bagian badan viol ada oala, tali ada mara purus dan kamo bagian batang yang dipegang serta paku (sebelum ada paku dipakai pohon bulu batu).

Selain pandai bermain musik dan membuat alat musik, om Timi ternyata adalah pandai besi, ia telah menghasilkan parang atau samarang untuk dipakai sendiri atau dijual di pasar. Disela-sela obrolan kami, ia kemudian mengambil sebuah kotak minyak rambut dan gulungan kertas dari kulit kayu. Dibukanya kotak minyak rambut itu, di dalamnya terdapat tembakau, rupanya ia akan merokok. Sebuah rokok yang semuanya berasal dari kebun dan hutan disekitarnya. Tembakau ia tanam dan diambil serta dibuatnya menjadi bahan rokok. Selain itu kertas pembungkus tembakau terbuat dari irisan jantung pohon sagori yang dikeringkan dan dibuat berbentuk gulungan. Setiap akan digulung lembar pembungkus itu di potong sesuai ukuran rokok yang akan dihisap. Sayang, tambah om Timi, tak ada lagi yang mau mengisap rokok seperti ini. Ia bahkan juga akan merasa rendah diri jika keluar rumah dengan membakar rokok seperti ini. Apalagi anak muda. Yang membuat minder jika merokok jenis rokok seperti ini aalah karena orang orang akan mengetahui ia orang tak punya uang, orang miskin katanya. Sehingga jika keluar ia akan membeli eceran-sebutan buat rokok yang dijual per batang.

Ternyata selain keahlian diatas, om Timi juga menguasai ramuan ramuan obat tradisional yang ia warisi dari leluhurnya. Oleh orang orang Buli ia dikenal juga sebagai palalao, seorang tabib, dokter kampung. Om Tim dengan antusias bercerita bagaimana seorang “dokter kota” berpesan padanya bahwa pengetahuan seperti ini jangan sampai ditinggalkan. Ia juga mencontohkan seorang pembesar yang sakit bertahun tahun karena merasa kesakitan dan tak bisa tidur dengan nyenyak. Setelah mengunjungi beberapa dokter ia akhirnya menemui om Timi. Setelah itu, sebuah ramuan diberikan dan dalam tiga hari ia telah bisa tidur dengan nyenyak. Penyakit orang itu, menurut om Timi bukan hanya disebabkan oleh penyakit biasa tetapi juga penyakit akibat kiriman orang atau gangguan roh roh jahat. Selain pengobatan melalui racikan bahan bahan alam, om Tim juga menguasai mantra mantra yang ditiupkan dalam air minum untuk penyembuhan.

Menurut om Timi, kalau sakit kepala berdasarkan pengetahuannya, orang orang Buli akan mengambil daun muda jeruk nipis yang dicincang dan ditempelkan di kepala. Jika masuk angin, kapas yang diambil dari buah pohon kapas itu direndam dalam air dan diminum, ini juga untuk orang yang panas. Sedangkan untuk panas tinggi, biji langsat yang dihancurkan dan direbus dalam air lalu diminum adalah obatnya, ini juga untuk mengobati malaria.

Timi Tius, seniman serba bisa dari desa Sailal di sela kebersahajaan hidupya, orang tua ini menyimpan segudang pengetahuan bukan hanya pengetahuan bermusik, mengolah kayu, menempa besi tetapi juga pengetahuan pengobatan orang Buli Maba. Om Timi, seorang dengan kesederhanaannya, tanpa pengetahuan baca dan tulis menyimpan pengetahuan dengan ingatan, laksana perpustakaan berjalan. Ia menutup pembicaraan kami dengan menjawab sangat antusias jika ia diminta mengajari anak anak untuk bermain viol. “Saya PASTI bersedia” kuncinya.

49 views0 comments